Oleh : Arlina Putri*
Telah kita ketahui bahwa kuliah dan organisasi adalah kesibukan yang mustahil dipisahkan dari kehidupan mahasiswa. Keduanya adalah wadah yang tepat untuk menempa skill atau keahlian yang sesuai dengan minat bakat di kampus. Banyak organisasi kemahasiswaan yang bisa diikuti, mulai dari forum diskusi, seni budaya, jurnalistik, dan masih banyak lagi yang lainnya yang ada di kampus.
Idealnya setiap mahasiswa harus mengikuti paling tidak satu organisasi yang mereka suka. Tentu saja hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan pembagian waktu untuk belajar, kuliah, dan berorganisasi. Maklum saja, pada beberapa hal berorganisasi memang terkadang cukup menguras waktu, terutama ketika akan menggelar event tertentu.
Kita juga mungkin tahu, bahwa ada mahasiswa yang sama sekali enggan berorganisasi karena menganggap bahwa kegiatan tersebut tidak terlalu perlu dan hanya akan mengganggu konsentrasi kuliah. Padahal mengikuti organisasi tidak lah menganggu perkuliahan jika kita bisa mengatur waktunya.
Sementara yang tidak mengikuti organisasi lebih sering menghabiskan waktu untuk nongkrong di forum-forum yang tidak pasti dari pada harus mengikuti organisasi kampus.
Kita lihat saja orang yang sukses seperti Bapak Joko Widodo, Presiden RI, sewaktu kuliah di Fakultas Kehutanan UGM beliau mengikuti Organisasi Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala). Karena menurutnya mengikuti organisasi itu seru.
Hal yang paling tidak bisa dilupakannya saat aktif di mapala yaitu saat dia mampu menaklukan gunung Kerinci pada tahun 1982. Pasalnya dari 16 pendaki yang ikut, Jokowi paling lebih dulu mencapai puncak kerinci.
Tidak hanya Jokowi, Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK) juga dikenal banyak mengikuti dan berperan aktif dalam beberapa organisasi kepemudaan Seperti Pelajar Islam Indonesia (PII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), bahkan di organisasi mahasiswa tersebut JK menduduki posisi puncak, Ketua Umum.
Lalu, mana sih yang sebetulnya lebih penting, kuliah atau organisasi ? Untuk menjawabnya, terlebih dulu kita harus mengetahui manfaat dari keduanya.
Tujuan awal kita masuk universitas adalah untuk belajar sesuai disiplin ilmu yang ditekuni. Memfokuskan diri 100% untuk kegiatan akademis sudah tentu akan meningkatkan konsentrasi belajar kita. Kemudian kita mempunyai tekad mendapatkan IPK tinggi juga terbuka lebar karena tidak dibebani tanggung jawab lain.
Selanjutnya, mahasiswa yang berprestasi secara akademik biasanya punya peluang lebih besar untuk mendapat beasiswa, baik dari kampus ataupun sponsor luar kampus. Benarkan?
Tetkait organisasi, banyak yang bilang bahwa organisasi itu tidak penting, lebih baik fokus kuliah. Ada juga yang bilang mengikuti organisasi di kampus hanya akan memperlambat proses kelulusan, akan menjadi mahasiswa abadi, penjaga kampus karena terlalu disibukan dengan urusan organisasi sehingga kuliah ditelantarkan.
Namun kenyataannya, banyak juga yang tidak mengikuti organisasi menjadi mahasiswa abadi. Artinya, pokok permasalahannya tergantung pada manajemen diri kita sendiri.
Mengikuti organisasi itu penting bahkan sangat penting. Karena organisasi adalah wadah yang tepat bagi mahasiswa untuk mengasah soft skill-nya yang takkan pernah bisa didapat dari kuliah dosen. Mulai dari kepemimpinan, tanggung jawab, public speaking, dan sebagainya.
Kemudian, Organisasi juga dapat memperluas networking kita. Akan membuat kita mengenal lebih banyak orang.
Organisasi juga bisa mendewasakan pola pikir, karena sudah terbiasa bersosialisasi dengan banyak orang. Biasanya, mahasiswa yang berorganisasi punya pola pikir yang lebih matang dan berbeda daripada mahasiswa yang hanya aktif kuliah.
Selain itu, kita juga bisa belajar menghargai pendapat orang lain yang tidak sejalan dengan pikiran kita.
Jadi, jika ada yang menanyakan mana yang lebih penting antara kuliah atau organisasi ? Nggak perlu ribet lagi menjawabnya, tentu keduanya penting.
Kuliah menyediakan disiplin ilmu yang akan bermanfaat bagi pencapaian karier mahasiswa ketika sudah lulus nanti. Sedangkan soft skill yang diperoleh selama mengikuti organisasi juga akan menunjang kehidupan mahasiswa ketika terjun di tengah-tengah masyarakat.
Maka tidak heran, selain ber-IPK tinggi, syarat lain yang wajib dipenuhi setiap pelamar beasiswa adalah keaktifan berorganisasi dan pengabdian dirinya kepada masyarakat. Ini karena pihak pemberi beasiswa ingin memastikan bahwa penerimanya adalah orang yang benar-benar kompeten dalam berbagai bidang.
Jadi, kuliah atau organisasi, sekarang sudah tahu jawabannya kan? (*)
*Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Pengkhususan Jurnalistik Universitas Jambi.
UKBI; TOEFL-nya Orang Indonesia Yang Asing Di Negeri Sendiri
Korem 042/Gapu Gelar Sholat Idul Adha 1447 H di Lapangan Tenis Indoor Makorem


